Pusdakota: Menuju Masyarakat Berdaya dan Berkeadilan
Rabu, 10 Oktober 2007
Sejarah Penemuan Keranjang Takakura
Gerakan pengelolaan lingkungan yang dilakukan Pusdakota dengan Warga RW 14 Rungkut Lor Surabaya sejak tahun 2000, di samping menginspirasi berbagai pihak juga mempertemukan kami, Pusdakota dengan Pemerintah Kitakyusu Jepang dan Kitakyusu International Techno-cooperation Association (KITA).

Tahun 2005, Pusdakota menjalin kerjasama dengan Pemerintah Kota Surabaya, KITA, Pemerintah Kitakyusu Jepang, di bidang riset teknologi dan pengorganisasian masyarakat.

Untuk kerjasama di bidang teknologi, kesepakatannya adalah optimalisasi teknik-teknik pengelolaan sampah yang telah dilakukan Pusdakota bersama komunitas dan optimalisasi metode-meode pengelolaan sampah yang sudah berkembang di Surabaya dengan segenap potensi yang tersedia.

Dengan riset itu Pusdakota berharap, Indonesia akan punya banyak alternatif metode untuk menangani sampah. Teknologi tersebut kami harapkan bisa diterapkan siapa pun dengan bahan baku yang mudah dan murah. Yang lebih mendasar adalah, teknologi ini diharapkan mampu memberi inspirasi tentang keterjagaan diri untuk senantiasa memberikan yang terbaik bagi lingkungan sekitar. Bukankah teknologi haruslah dimaknai lebih dari sekadar sebagai alat bantu, namun sarana kita untuk menempuh tujuan maknawi?

Penemuan Keranjang Takakura adalah citra semangat dan kerja keras kami terhadap pengelolaan sampah. Kami melakukan penelitian puluhan keranjang untuk membuat perbandingan formulasi yang paling efektif dalam mereduksi sampah, dengan puluhan kolom yang harus diisi setiap satu jam sekali selama dua bulan. Belum lagi kami harus menentukan pilihan metode yang paling sesuai sampai tiga kali.

Keranjang Takakura memang belum final dan bukan yang terbaik. Maka kami terbuka terhadap inovasi-inovasi untuk selalu menemukan yang lebih baik. Penemuan atas Keranjang Takakura saat itu tidak langsung kami sampaikan kepada masyarakat sebelum kami benar-benar menemukan kelayakannya, antara lain lewat praktik-praktik yang kami lakukan. Semua keluarga staf Pusdakota disiplin memakai dan merawat hasil kerja keras itu untuk semakin memberi penyempurnaan. Proses awal, pengolahan, perawatan, pematangan, pemanenan, hingga kemanfaatan hasil keranjang sakti akhirnya kami sepakati berdasarkan lesson learned kami.

Kenapa unit komposter ini dinamakan Takakura? Pakar Kompos Koji Takakura sangat berjasa atas penemuan teknologi ini. Sangat pantas bila Takakura dijadikan nama bagi keranjang pengomposan itu. Takakura – juga Tetsuya Ishida dari KITA -- pernah mengada bersama bahu-membahu bersama demi perbaikan lingkungan hidup.


Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket


Hak Paten

Saat kami berproses menemukan Keranjang Takakura bersama pihak Jepang, kami pun memprediksi bahwa suatu saat unit komposter ini akan menarik minat banyak orang. Tentu secara alami akan muncul persepsi sederhana dan manusiawi, kebanyakan orang sekarang tidak mau repot menciptakan sesuatu.. Kita terbiasa dengan budaya instan. Sementara Pusdakota bukan lembaga profit oriented yang mengumpulkan laba sebanyak-banyaknya untuk kepentingan organisasi. Kami pun tidak ingin keranjang sakti ini nantinya dikomersialisasikan demi keuntungan indivisu, kelompok atau lembaga tertentu.

Kami pun menemukan salah satu alternatif solusi yaitu HAKI. Untuk satu keputusan mematenkan produk ini pun kami berdebat panjang. Salah satunya adalah anggapan bahwa HAKI adalah produk kapitalisme.

Tapi toh memang produk ini hasil karya dan kerja keras kami. Dan kami diingatkan kembali oleh visi lembaga kami bahwa kami berdiri hanya untuk menjadi jembatan bagi siapa pun menuju masyarakat berdaya dan berkeadilan. Kami ingin melipatgandakan energi sosial masyarakat. Itu menjadi alasan kami mematenkan Keranjang Takakura.
Singkatnya, HAKI akan memperkecil kemungkinan pihak-pihak yang ingin mencari keuntungan materi bagi diri atau kelompok. Yang kedua, agar tidak terjadi kesalahan prinsipil terhadap penyediaan Keranjang Takakura. Soalnya, jika terjadi kegagalan, komplinnya pasti ditujukan kepada kami.

Selanjutnya adalah hal yang berkait dengan mekanisme kontrol publik yang transparan dan akuntabel terhadap penggunaan Keranjang Takakura. Kami ingin ada ukuran yang pasti tentang tingkat partisipasi masyarakat dalam mereduksi sampah, setidaknya lewat keranjang ini. Kami punya nomor register. Berapa buah keranjang ini beredar di masyarakat, kami memiliki datanya.

Pusdakota mengajukan permohonan untuk memperoleh HAKI pada 20 April 2006. Tahap pemeriksaan formalitas telah terpenuhi dengan turunnya surat bernomor H3.HC.02.Pol.012/1173, tertanggal 29 Maret 2006.

Sesungguhnya kami membuka diri bagi siapa pun yang ingin menyediakan atau memproduksi Keranjang Takakura, namun syaratnya, sistem monitoring dan karakteristik komponen di dalamnya memiliki fungsi dan kualitas yang sama atau lebih baik dengan Takakura Home Method. Beberapa jaringan kami di tingkat komunitas telah kami latih untuk melakukannya, sesuai dengan standar tersebut. Peran komunitaslah yang nantinya muncul, bukan peran individu atau golongan.

Ini juga merupakan media pembelajaran agar warga dapat menjalankan mekanisme pengelolaan sampah di wilayahnya secara mandiri. Intinya, dari waktu ke waktu besarnya partisipasi pengelolaan sampah seiring dengan meningkatnya jumlah Keranjang Takakura yang tersebar, signifikan mereduksi sampah organik yang dibuat ke TPS.
Jika sistem dijalankan dengan disiplin hasilnya pasti bagus. Alangkah indahnya bila komunitas dan kader-kader pengelola, secara rutin, mungkin pada hari lingkungan, bersamaan menyampaikan perkembangan pengelolaan sampah, kualitas dan kuantitasnya.Ini memudahkan kota untuk membuat langkah strategis dalam pengelolaan sampah pada masa mendatang. Bukankah kita telah sepakat bahwa sampah tidak dapat diatasi oleh satu pihak saja?

Untuk Keranjang Takakura, kami juga selalu membuka diri untuk pembelajaran baru. Beberapa kali teman-teman dari perguruan tinggi, bahkan siswa SMP menginovasi atau menyempurnakan Keranjang Takakura. Kami berterima kasih pada keluarga besar UNESA, ITB, UNNIBRAW, UPN, ITS, UBAYA dan NGO’s di Bali, Semarang, Tulung Agung, Semarang, Keluarga Mantan Menteri Kehutanan Jamaludin Soeryohadikusumo, PKK Kodya Surabaya dan banyak komunitas lain yang tak mungkin kami sebutkan satu persatu.. * broto

Label:

posted by keranjangtakakura @ 10.44  
4 Comments:
Posting Komentar
<< Home
 

Keranjang Takakura

Previous Post

Archives

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Saling berbagi kisah inspiratif akan membuka hati dan membangkitkan pintu-pintu kreativitas. Kirimkan pengalaman Anda memakai Keranjang Takakura ataupun kisah-kisah Anda yang berhubungan dengan kepedulian terhadap lingkungan ke office@pusdakota.org.

Kisah Anda bisa kami muat di media-media terbitan kami (blog ini ataupun Majalah Pendopo)

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - 

Shoutbox


Free shoutbox @ ShoutMix

Jumlah Kunjungan

hit counter

Partner Link

Pusdakota

UBAYA

KITA

ECOTON

Alpha Savitri

Tirta Amartya

Terranet

Cakfu

iges

YDSF

menlh

bintari

UNESCAP

togarsilaban

balifokus